Kampung Inggris Pare bukanlah fenomena yang diciptakan secara instan. Predikat ini lahir dan berkembang secara natural dan otentik dari sebuah desa kecil di Kediri, Jawa Timur, menjadi ikon pendidikan bahasa yang terkenal hingga ke mancanegara. Kisah ini dimulai dari kegigihan seorang santri.
I. Awal Mula: Peran Sentral Mr. Kalend Osen (Tahun 1970-an)
Sejarah Kampung Inggris Pare tidak terlepas dari sosok Mohammad Kalend Osen, seorang santri asal Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, yang pernah menempuh pendidikan di Pondok Modern Gontor.
💡 Titik Balik di Pare
Setelah selesai mondok, Mr. Kalend Osen memiliki niat kuat untuk mendalami bahasa asing. Ia mendengar kabar bahwa di Pare, terdapat seorang ulama, Kyai Ahmad Yazid Ibnu Thohir (Pengasuh Ponpes di Pare), yang menguasai banyak bahasa asing. Mr. Kalend pun bergegas menuju Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kediri.
🧑🏫 Kelas Perdana yang Tak Terduga
Saat tiba, Kyai Yazid sedang tidak berada di tempat. Secara kebetulan, ada dua mahasiswa IAIN Sunan Ampel (sekarang UINSA) yang sedang mencari guru privat bahasa Inggris untuk persiapan tes. Kedua mahasiswa ini kemudian direkomendasikan untuk belajar kepada Mr. Kalend.
Mereka belajar di serambi masjid. Dengan modal kemampuan yang dimiliki, Mr. Kalend berhasil mengajar dan membantu kedua mahasiswa tersebut lulus ujian. Kabar keberhasilan ini menyebar cepat di kalangan mahasiswa IAIN, dan tidak lama kemudian, enam mahasiswa lainnya datang ke Pare untuk belajar secara langsung.
🥇 Berdirinya BEC (Basic English Course)
Melihat tingginya minat, Mr. Kalend Osen kemudian melembagakan kursusnya secara resmi. Pada 15 Juni 1977, lahirlah lembaga kursus pertama dan pionir di Pare: Basic English Course (BEC), berlokasi di Jl. Anyelir, Dusun Singgahan, Desa Pelem.
II. Masa Perkembangan dan Kelahiran Predikat “Kampung Inggris” (Tahun 1990-an hingga 2000-an)
📈 Pertumbuhan Eksponensial Lembaga
Perkembangan pesat BEC terjadi sekitar 10 tahun kemudian. Murid-murid lulusan terbaik dari BEC, yang terinspirasi oleh metode pengajaran Mr. Kalend, mulai mendirikan lembaga kursus mereka sendiri. Hal ini menciptakan efek domino.
Lembaga-lembaga kursus baru ini menyebar ke desa tetangga, yaitu Desa Tulungrejo, khususnya di area sekitar Jalan Brawijaya dan Kemuning.
🏷️ Julukan “Kampung Inggris”
Seiring bertambahnya lembaga kursus dan membeludaknya pelajar dari seluruh Indonesia, wilayah Desa Pelem dan Desa Tulungrejo mulai dijuluki “Kampung Inggris”.
Julukan ini makin menguat sekitar tahun 2000-an, terutama saat program sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) populer, di mana banyak pelajar membutuhkan persiapan bahasa Inggris intensif. Pare menjadi tujuan utama karena metode yang efektif, lingkungan yang mendukung, dan biaya yang relatif terjangkau.
III. Kampung Inggris Masa Kini: Evolusi Menjadi “Kampung Bahasa”
🏘️ Komunitas Belajar yang Solid
Saat ini, Kampung Inggris Pare telah memiliki lebih dari 200 lembaga kursus resmi dan non-resmi yang tergabung dalam Forum Kampung Bahasa (FKB) Pare. Setiap tahun, lebih dari 20.000 pelajar dari Sabang sampai Merauke datang ke sini.
Keunikan Kampung Inggris terletak pada sistem full immersion atau asrama (sering disebut camp) yang mewajibkan para pelajar untuk menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Ini menciptakan atmosfer belajar yang kondusif dan suportif.
🌐 Transformasi Menjadi “Kampung Bahasa”
Seiring perkembangan, Pare tidak lagi hanya fokus pada Bahasa Inggris. Banyak lembaga yang mulai menawarkan program bahasa asing lainnya, seperti:
- Bahasa Arab
- Bahasa Mandarin
- Bahasa Jepang
- Bahasa Korea
- Bahasa Jerman, dan lainnya.
Oleh karena itu, banyak yang kini menjuluki Pare sebagai “Kampung Bahasa”, mencerminkan keberagaman edukasi di kawasan tersebut.
📊 Dampak Ekonomi Lokal
Keberadaan Kampung Inggris telah memberikan manfaat ekonomi yang masif bagi masyarakat Pare. Warga lokal berbondong-bondong membuka berbagai usaha, seperti:
- Penyewaan kamar kos (camp)
- Warung makan, kafe, dan restoran
- Jasa laundry dan fotokopi
- Penyewaan sepeda
Hal ini menjadikan Kampung Inggris sebagai pusat pendidikan yang juga sekaligus menjadi destinasi wisata edukasi terkemuka di Indonesia.
Kesimpulan:
Sejarah Kampung Inggris Pare adalah kisah tentang bagaimana niat tulus seorang pendatang, Mr. Kalend Osen, dalam berbagi ilmu bahasa Inggris, mampu menumbuhkan sebuah ekosistem pendidikan raksasa. Dari satu lembaga kursus, kini Pare menjadi inspirasi bagi banyak daerah dan membuktikan bahwa kualitas pendidikan bahasa terbaik dapat lahir dari desa yang gigih dan otentik.
